| Obat Paling Laris 2010 | |
|
Sangat menarik untuk melihat daftar 10 obat terlaris di dunia pada saat ini. [Sayang kita tidak memiliki data untuk Indonesia] Gambarannya untuk tahun 2010 adalah sebagai berikut: [angka ini adalah angka prakiraan sementara dan sedikit naik dari angka tahun 2009]
Urutan Nama Obat Penyakit Penjualan dalam Triliun Rupiah 1 Lipitor Cholesterol 106 2 Plavix Pengencer Darah 87 3 Advair Astma 81 4 Remicade Arthritis 67 5 Enbrel Arthritis 64 6 Humira Arthritis 61 7 Avastin Cancer 60 8 Rituxan Cancer 55 9 Diovan Tekanan Darah tinggi 54 10 Crestor Cholesterol 52 Jumlah penjualan diatas adalah dalam satuan Triliun Rupiah [angka nolnya 12 buah, atau 1000 kali milyar rupiah]. Jumlah yang fantastis. Perlu diketahui juga bahwa ada sekitar 100 buah produk yang diperdagangkan melewati angkapenjualan diatas 10 Triliun Rupiah pertahun. Sangat hebat. Daftar obat ini ternyata tidak merepresentasikan urutan yang sama dari prosentase penyakit yang terjadi di dunia. Bila kita lihat jenis penyakit diatas, Arthritis [penyakit tulang, umumnya terjadi pada orang tua berupa Rheumatik dan sejenisnya] menempati urutan pertama dengan 192 Triliun [Remicade, Enbrel dan Humira], sedang Cholesterol, 158 Triliun masih menempati posisi kedua dalam 10 besar ini [Lipitor dan Crestor], Cancer adalah ketiga [Avastin dan Rituxan], Pengencer Darah Plavix sebagai nomer 4 dan Diovan menjadi urutan terakhir dengan 54 Triliun. Angka2 ini sedikit mengejutkan orang, karena ternyata tidak sejalan dengan urutan statistik penyakit yang membunuh manusia, yaitu secara berturutan terbesar adalah Penyumbatan aliran darah Jantung [cardiovascular], Penyakit akibat Infeksi dan Parasit, Penyakit Jantung Ischemic, Cancer, Pecah Pembuluh darah Otak [Stroke], Infeksi saluran pernafasan, AIDS, Bronchitis kronis dan Penyakit Pencernaan. Mengapa ada perbedaan antara keduanya? Sebagai contoh, Arthritis tidak pernah menghuni daftar 10 besar namun meraup penjualan terbesar didunia. Untuk Cholesterol dan Cancer dan Penyakit jantung masih mengikuti pola yang sejalan. Sebaliknya, Penyakit akibat infeksi dan Parasit, Infeksi saluran pernafasan, Penyakit Pencernaan dan penyakit lainnya diatas tidak termasuk dalam angka penjualan obat tertinggi. Mengapa? Jawabannya sangat sederhana. Intinya adalah bisnis, dimana tingkat keuntungan jenis obat akan mendikte obat2 mana yang layak dikembangkan untuk mendapat keuntungan yang terbesar. Jadi fokusnya bukan menjual obat yang dibutuhkan masyarakat namun menjual yang paling menguntungkan. Ini juga sangat tergantung dari kemampuan membeli oleh subject yang menderita sakit itu. Dalam hal ini istilah “penyakit orang miskin” dan “penyakit orang kaya” sangat dominan. Tentunya masih ada factor lain yang berpengaruh, namun sikap pabrik farmasi sangat jelas, yaitu memproduksikan obat untuk penyakit orang kaya sebanyak mungkin. Kedengarannya gak menyakitkan telinga, namun itulah faktanya. Penyakit orang kaya tadi sangat kasat mata. Mari kita lihat contohnya. Arthritis merupakan salah satu penyakit para orang tua, yang nota bene diderita para pensiunan di negara2 maju, yang memiliki uang pensiun yang besar dan kesehatannya dilindungi oleh program asuransi. Yang membuat penjualan menjadi besar juga adalah bahwa obat2an jenis ini selalu dianjurkan dokter untuk harus dikonsumsi seumur hidupnya. Sama halnya dengan Astma, penyakit ini bukan penyakit yang mematikan, namun pelu dikendalikan seumur hidup penderita. Para pensiunan ini sangat manja dan mengkonsumsi obat farmasi yang berlebihan [lihat penjualan obat untuk arthritis, cholesterol, jantung dan darah tinggi yang sangat besar]. Untuk cholesterol dan penyakit jantung serta darah tinggi, kebutuhan ini juga disebabkan karena masalah kesehatan yang ada karena di Negara maju tingkat kegemukan [obesity] telah dalam tingkat yang menghawatirkan. Ini tentunya di kapitalisasi oleh pabrik obat yang menghembus hembuskan betapa dahsyatnya bahaya dari cholesterol. Kematian akibat peyumbatan aliran darah memang menempati urutan pertama kematian, namun ini belum tentu disebabkan oleh cholesterol. Bila kita perhatikan dengan seksama lagi, keuntungan pabrik farmasi tadi didapatkan dari obat2 untuk penyakit yang chronis, penyakit yang susah sembuh dan menahun, dengan pengidap berumur mayoritas 50 tahun keatas dan mempunyai daya beli yang kuat. Sebaliknya untuk penyakit orang miskin seperti Penyakit akibat Infeksi dan Parasit, Infeksi saluran pernafasan, AIDS, Bronchitis kronis dan Penyakit Pencernaan, tidak merupakan obat yang popular untuk diproduksi. Sebagai catatan, beberapa obat khusus penyakit pencernaan ternyata menghasilkan lebih dari 10 Triliun, seperti Nexium, karena dipakai untuk penyakit lambung GERD yang sengaja di asosiasikan berhubungan dengan penyakit cancer dan jantung. Obat2an yang tersedia untuk kelas penyakit “miskin” cukup banyak jenisnya dengan kualitas yang boleh dikatakan sedang hingga buruk dan dijual dengan harga sedang hingga rendah, karena mayoritas dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah yang menderita penyakit ini terutama karena kondisi lingkungan hidupnya yang buruk. Bagaimana dengan daftar 100 obat terlaris, apakah secara total ada perubahan yang mencolok, misalkan obat “orang miskin” sudah ada yang masuk kedalamnya? Ternyata tidak. Yang bertambah didalamnya adalah obat2 Penenang, Diabetes, Alzheimer dan Osteoporosis yang masih merupakan penyakit orang kaya dan tidak ada obat kudisan misalnya, obat malaria atau tuberkulosis yang menjadi pembunuh pertama di Indonesia. Didalam prakiraan daftar obat untuk tahun 2014 [empat tahun lagi], ternyata diperkirakan beberapa produk seperti Lipitor, Plavix akan keluar dari daftar digantikan oleh lantus [Diabetes] dan Herceptin [kanker payudara]. Ini terjadi hanya karena masa patent nya habis dan akan dapat ditiru oleh pabrik pabrik lain. Kedua produk ini diramalkan akan dikemas ulang dengan sedikit modifikasi dan dipasarkan dengan merek lainnya, jadi bisa saja petanya tidak banyak berubah. Pabrik pabrik obat didunia dikuasai oleh 20 nama yang secara total menguasai pasar obat2an. 10 besar nama pabrik itu secara berurutan adalah: Johnson&Johnson, Pfizer, Roche, GlaxoSmithKline, Novartis, Sanofi-Aventis, AstraZeneca, Abbott, Merck dan Bayer. Persaingan antara mereka sendiri kurang cukup diketahui, apakah bersaing dengan sehat ataukah juga menciptakan kartel2 disejumlah kawasan. Yang disinyalir menjadi masalah terbesar bagi perusahaan2 farmasi ini adalah masalah etika dan termasuk juga penipuan publik. Masalah etis itu sebahagian besarnya adalah pelanggaran standar teknis pembuatan dan pengujian obat yang berpengaruh pada kualitas obat. Sejumlah pelanggaran pabrik2 ini juga sering terjadi dengan terjadinya pemasaran obat yang sama sekali tidak berguna dan merupakan pembohongan publik semata mata. Dalam tahun lalu, Pfeizer dikenakan denda sebesar lebih dari 20 Triliun untuk salah satu produknya, Merck dikenakan denda total sekitar 20 Triliun juga untuk beberapa merek yang dikeluarkannya. Ini adalah denda dalam jumlah yang sangat besar didalam industri apapun didunia. Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa mereka tidak ditutup saja oleh pemerintah? Perusahaan2 ini sudah sedemikian besarnya sehingga memiliki tangan2 gurita yang mengontrol semua pemegang otoritas di negaranya dan mengontrol semua ahli ahli dan dokter2 diseluruh dunia untuk melanggengkan bisnisnya. Mereka dikatakan sebagai “terlalu besar untuk ditutup”. Pfeizer memiliki penghasilan sebesar 500 Triliun rupiah per tahun, Merck sebesar 250 triliun dan Johnson and Johnson sebagai yang terbesar adalah 550 Triliun rupiah per tahun. Ada beberapa keprihatinan lainnya yang mendalam atas kondisi ini. Pertama adalah bahwa pada umumnya obat2an diatas tidak menyembuhkan penyakit secara tuntas. Semua jenis obat diatas pada dasarnya adalah mengobati symptom atau gejala nya saja, tanpa sanggup mengobati penyebabnya. Karena itu banyak yang mengatakan itu memang disengaja agar penjualan berlanjut. Keprihatinan kedua adalah bahwa dampak sampingan obat2 ini cukup buruk terutama karena dikonsumsi dalam jangka panjang, namun hal ini tidak selalu dijelaskan terhadap pasien dan kualitas seperti ini ternyata diloloskan oleh otoritas seperti FDA atau POM. Ambil saja contoh obat2 terkenal untuk menurunkan cholesterol. Harganya sudah sedikitnya Rp 10.000 per butir dan dampak sampingnya adalah urat nadi pengguna akan menjadi kaku dalam jangka panjang dan risiko pecah pembuluh darah menjadi tinggi. Bandingkan dengan vitamin B-3 yang merupakan obat terbaik untuk menurunkan cholesterol. B-3 tidak memiliki efek sampingan dan harganya per dosis kurang dari Rp 1.000. Contoh lain, obat Plavix, Diovan, Norvacs yang sangat laris diresepkan oleh dokter, dimana dalam jangka panjang akan menimbulkan reaksi yang merusak organ tubuh. Alternatifnya tentu ada dan bisa saja tanpa obat, yaitu merubah gaya hidup dan cara makan. Ini adalah pengobatan Gratis dan tanpa risiko. Pelajaran apa yang dapat kita tarik dari masalah diatas. Pertama dan terpenting adalah, berhati hati untuk mengkonsumsi obat farmasi. Anda perlu capek sedikit untuk lebih mengetahui penyakit anda dan obat apa yang anda akan makan dan mengetahui dampak sampingannya. Kedua, dan ini sangat penting, bagi dokter2 yang memberi resep bagi pasien nya agar lebih kritis untuk mengetahui apa yang anda berikan kepada pasien. Jangan terlalu percaya pada apa yang dikatakan pabrik farmasi. Selidiki setiap obat yang anda berikan. Bila obat itu ternyata bermasalah, pabrik obat tidak akan dipersalahkan oleh pasien, tetapi Dokter yang memberikannya. |


















